Oleh: diksport | Januari 3, 2009

cara khsu’dlm sholat

Sesuatu hal yang sering kita dengar dan mudah diucapkan, namun sulit untuk dilaksanakan.
Tulisan dibawah, dipetik dari sumber sumber lain. Semoga bisa menyegarkan kembali niat kita untuk menggapai sholat yang khusyu.jmaPernahkah kita memikirkan betapa banyak janji dan ikrar yang terucap kala kita sholatalq?

Dalam shalat kita bertakbir, Allahu Akbar. Pada saat takbir hati kita
akan tergetar apabila kita mengerti arti dari takbir kita, apalagi kita
yakin bahwa ucapan kita tersebut sedang didengarkan Allah.

Kemudian kita membaca ikrar “innashalati wa nusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil
alamin…..dst.”, merupakan ikrar dihadapan Allah, bagi orang yang bahwa
dia berikrar dihadapanNya maka mengucapkannya pun hati-hati, karena
takut salah dan takut tidak dapat memenuhi ikrar tersebut yang dapat
berakibat kemurkaan dari sisiNya. Karena Allah telah berfirman dalam Al
Quraan surat 61:2 yang artinya sebagai berikut:mka

2. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan
sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa
yang tidak kamu kerjakan.

Banyak sekali pernyataan/ikrar yang kita ucapkan dalam shalat kita, yang
membawa konsekwensi bagi diri kita, karena setiap ikrar/janji akan
diminta pertanggungan jawabannya

Allah telah menetapkan bahwa hanya orang yang berakal saja yang dapat
memenuhi janjinya. Jadi sebaliknya orang yang tidak dapat memenuhi
janjinya maka termasuk orang yang tidak berakal.

Qs.13:19

19. Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan
kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta?
Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil
pelajaran, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak
merusak perjanjian.

Di dalam shalat kita mengucapkan “laasyarikallahu …… ashadu alla
illaha ilallah”, kemudian sesudah shalat melupakannya dengan
mempersekutukan Allah dengan mahluk-mahlukNya, misalnya mengikuti hawa
nafsu, mengikuti manusia lain dengan anutan bukan dari Allah,
mengagungkan duniawi, dsb. Maka janjinya gugur, dan dia mendapat
kemurkaan dari sisi Allah.

Qs.6:56
56. Katakanlah: “Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang
kamu sembah selain Allah”. Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti
hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan
tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Kemudian, bagaimana cara kita untuk menggapai sholat yang khusyu itu?
Langkah-langkah yang bisa diupayakan untuk menghadirkan khusyu secara garis besar terbagi kepada dua, yaitu: Perbuatan hati dan perbuatan lahir.

Perbuatan hati adalah sebagai berikut:

1. Menyadari bahwa di saat shalat kita sedang berhadapan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hasan bin Ali terlihat pucat pasi saat berwudhu. Ketika ditanya penyebabnya, dia menjawab, “Tahukah engkau dengan siapa aku akan berhadapan sesaat lagi?”
2. Memandang bahwa shalat yang dilakukannya merupakan shalat yang terakhir yang sebentar lagi kita akan bertemu dengan Allah dan Dia akan meminta pertanggungjawaban dari kita atas semua ibadah yang kita amalkan.
3. Memahami arti yang dibaca. Hal ini sangat membantu untuk menghindarkan lintasan-lintasan pikiran yang mengintervensi shalat kita.
4. Berusaha mengembalikan perhatian kepada bacaan ketika hati terganggu dengan pikiran-pikiran di luar shalat.

Untuk mencapai semua itu, maka memusatkan perhatian harus dikerjakan dari mulai sebelum shalat, yaitu memutuskan hubungan dengan seluruh urusan yang sedang dihadapi, memperbaharui ingatan akan hari Akhirat dan membayangkan bahwa kita sedang berdiri di hadapan Allah Yang Maha Agung.

Adapun perbuatan lahir yang harus dikerjakan adalah sebagai berikut:

1. Tidak menggerak-gerakan anggota badan di luar shalat kecuali dalam keadaan sangat mendesak, misalnya membunuh binatang yang berbahaya atau mematikan api yang dikhawatirkan menyebabkan kebakaran. Dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kamu berdiri shalat, maka janganlah menghapus pasir dari wajahnya karena ia sedang menghadapi rahmat.” (Hadits riwayat Imam yang lima)
2. Menjauhkan benda-benda yang bisa mengganggu konsentrasi, seperti gambar dan lain sebagainya. Rasulullah bersabda, “Jauhkanlah tirai ini karena gambarnya menggangguku ketika aku shalat.” (Hadits riwayat Bukhari)
3. Mengarahkan pandangan ke tempat sujud tidak menoleh ke kiri, ke kanan atau ke atas.
4. Menjauhkan suara-suara yang dapat mengganggu, bahkan jika bacaan Qur’an bisa mengganggu kekhusyuan shalat saudaranya, maka berhentilah. Lalu membacanya lagi jika saudaranya selesai shalat.
5. Berusaha agar suasana fisik merasa nyaman. Jika kenyamanan itu bisa diperoleh dengan mandi terlebih dahulu misalnya, maka tidak ada salahnya untuk dilakukan.
6. Menghilangkan rasa kantuk saat menjelang shalat. Jika kantuk terlalu berat dan sulit untuk dihilangkan kecuali dengan tidur, maka tidur terlebih dahulu adalah dianjurkan dengan syarat ada jaminan tidak ketinggalan waktu shalat.
7. Menghindarkan diri dari “rayuan” makanan, oleh karena itu orang yang merasa lapar dianjurkan makan terlebih dahulu. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Apabila dihidangkan makanan maka mulailah (Makan dahulu) sebelum shalat maghrib.” (Hadits riwayat Muslim) Di luar semua itu yang tidak boleh dilupakan adalah berdoa kepada Allah agar kita diberi kekuatan untuk bisa khusyu. Di antar doa yang diajarkan adalah:
“Allahumma inni a’udzubika min ‘ilmin laa yanfa, wa min Qalbin laa yakhsya’, wa min nafsin laa tasyba’, wa min ‘amalin laa yurfa’, wa min du’aain laa yustajaabu lahu.”
Artinya: “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu, dari nafsu yang tidak pernah kenyang , dari amal yang tidak diterima, dari dan doa yang tidak dikabulkan”

Dari upaya melaksanakan sholat yg khusyu, akan terlihat pula buahnya.

Ciri-ciri orang-orang yang shalatnya khusyu :
1. Sangat menjaga waktunya, dia terpelihara dari perbuatan dan perkataan sia-sia apalagi maksiat.
2. Niatnya ikhlas, jarang kecewa terhadap pujian dan penghargaan, dipuji atau tidak dipuji, dicaci atau tidak dicaci, sama saja.
3. Cinta kebersihan. Sebelum shalat, orang harus wudhu terlebih dahulu untuk mensucikan diri dari kotoran atau hadast.
4. Tertib dan disiplin, karena shalat telah diatur waktunya.
5. Selalu tenang dan tu’maninah. Tu’maninah merupakan kombinasi antara tenang dan konsentrasi.
6. Tawadhu dan rendah hati. Tawadhu merupakan akhlaknya Rasulullah.
7. Tercegah dari perbuatan keji dan mungkar, orang lain aman dari keburukan dan kejelekannya.
Inti dalam shalat khusyu yaitu akhlak yang baik, sebagaimana Rasulullah SAW menerima perintah shalat dari Allah SWT. Itulah ciri ibadah yang disukai Allah.

Oleh: diksport | Desember 21, 2008

asal-usul manusia

      images      ASAL-USUL DAN KEBERLANGSUNGAN KEHIDUPAN
b
Salah satu sifat  asli  Al-Quran,  yang  membedakannya  dari
Bibel  sebagaimana  disebutkan,adalah bahwa untuk
mengilustrasikan  penegasan  yang   berulang-ulang   tentang
ke-Mahakuasaan  Tuhan,  Kitab  tersebut merujuk kepada suatu
keragaman gejala alam. Dalam hal sejumlah besar fenomena ini
ia   juga  memberikan  suatu  uraian  terinci  tentang  cara
hfenomena-fenomena  itu  berevolusi  -penyebab-penyebab   dan
akibat-akibatnya.   Kesemua   rincian   ini   pantas   untuk
diperhatikan.  Pernyataan-pernyataan  yang  dikandung   oleh
Al-Quran  tentang  manusia,  adalah  di  antara  yang paling
mengejutkan saya ketika saya membaca  kitab  tersebut  untuk
pertama  kalinya  dalam  bahasa  Arab  aslinya.  Hanya  yang
aslinya  sajalah  yang   bisa   menjelaskan   makna   sejati
pernyataan-pernyataan  yang  amat  sering disalahterjemahkan
disebabkan alasan-alasan yang disebut di atas.

Yang menjadikan penemuan-penemuan ini sangat penting  adalah
bahwa  kesemuanya  itu  merujuk  pada banyak pengertian yang
belum dikenal  pada  saat-saat  Al-Quran  diwahyukan  kepada
manusia  dan  yang -baru empat belas abad kemudian- terbukti
sepenuhnya selaras dengan sains modern.  Dalam  konteks  ini
sama  sekali  tak  perlu  mencari-cari penjelasan-penjelasan
palsu yang cenderung muncul di beberapa publikasi dan bahkan
di  dalam  sejarah-sejarah  ilmu kedokteran yang di dalamnya
Muhammad  dianggap  sebagai   memiliki   kemampuan-kemampuan
kedokteran  (sebagaimana juga Al-Quran disebut-sebut sebagai
mengandung  resep-resep  kedokteran,  suatu   gagasan   yang
sepenuhnya tidak tepat).[1]
sd2c1
Al-Quran memberikan jawaban yang amat jelas pada pertanyaan:
Pada titik manakah kehidupan bermula? Dalam bagian ini, saya
akan   mengajukan   ayat-ayat   Al-Quran  yang  di  dalamnya
dinyatakan bahwa Asal Manusia  adalah  (bersifat)  air.
Ayat  pertama  di bawah ini juga menunjuk kepada pembentukan
alam semesta.                                     

r"Tidakkah orang-orang kafir itu melihat bahwa  lelangit  dan
bumi  disatukan,  kemudian  mereka  Kami  pisahkan  dan Kami
menjadikan setiap yang hidup dari air. Lantas akankah mereka
tak beriman?" (QS 21:30)

Pengertian  'menghasilkan  sesuatu  dari  sesuatu yang lain'
sama sekali tidak menimbulkan  keraguan.  Ungkapan  tersebut
bisa  juga  berarti  bahwa  setiap sesuatu yang hidup dibuat
dari air (sebagai  komponen  pentingnya)  atau  bahwa  semua
benda  hidup  berasal  dari  air. Kedua makna itu sepenuhnya
sesuai dengan data saintifik. Pada  kenyataannya,  kehidupan
berasal  dari yang bersifat air dan air adalah komponen yang
paling penting dari seluruh sel-sel hidup. Tanpa  air  hidup
menjadi  tidak  mungkin.  Jika  kemungkinan  kehidupan  pada
planet lain diperbincangkan, maka  pertanyaan  yang  pertama
selalu: Adakah cukup air untuk mendukung kehidupan di tempat
tersebut?

Data modern membawa kita untuk berpikir  bahwa  wujud  hidup
yang    paling   tua   barangkali   termasuk   dalam   dunia
tumbuh-tumbuhan:  ganggang  telah  ditemukan  sejak  periode
pra-Cambria  yaitu saat dikenalinya daratan yang paling tua.
Organisme yang termasuk dalam dunia hewan barangkali  muncul
sedikit lebih kemudian: mereka muncul dari laut.

Kata   yang   di   sini  diterjemahkan  sebagai  'air'  pada
kenyataannya adalah ma'[2] yang berarti baik air  di  langit
maupun  air  di  lautan atau segala jenis cairan. Dalam arti
yang pertama air merupakan unsur yang penting  bagi  seluruh
kehidupan tumbuh-tumbuhan:

"(Tuhan sajalah) yang telah menurunkan air dari langit. Maka
Kami[3]  tumbuhkan   (dari   air    itu)    berpasang-pasang
tumbuh-tumbuhan yang berbeda-beda." (QS 20:53)

Inilah    perujukan    pertama   kepada   suatu   'pasangan'
tumbuh-tumbuhan. Nanti kita akan kembali  kepada  pengertian
ini.

Dalam  arti  keduanya yang merujuk pada segala jenis cairan,
kata tersebut dipergunakan dalam bentuk  tak-tentunya  untuk
menunjukkan  zat  yang berada pada dasar pembentukan seluruh
kehidupan hewan:
"Dan Allah telah menciptakan semua jenis  hewan  dari  air."
(QS 24:45)

Sebagaimana  akan  kita lihat nanti, kata tersebut juga bisa
diterapkan pada cairan mani.[4]

Jadi, pernyataan-pernyataan dalam Al-Quran tentang asal-usul
kehidupan,  apakah itu merujuk kepada kehidupan secara umum,
unsur yang melahirkan tumbuh-tumbuhan di dalam tanah ataupun
benih  hewan-hewan, seluruhnya sepenuhnya sesuai dengan data
saintifik modern.  Tak  satu  pun  mitos  tentang  asal-usul
kehidupan  yang  lazim  dianggap  benar oleh orang pada saat
Al-Quran diwahyukan kepada  manusia  disebutkan  dalam  teks
tersebut.
Al-Quran  merujuk pada banyak aspek kehidupan di dalam dunia
hewan dan tetumbuhan. Saya telah menguraikan kesemuanya  itu
dalam  karya  saya  sebelum  ini yang diterbitkan pada tahun
1976 (edisi bahasa Inggris,  1978).  Dalam  studi  ini  saya
ingin  memusatkan  perhatian pada ruang yang diberikan dalam
Al-Quran kepada tema keberlangsungan kehidupan.

Berbicara secara umum, komentar-komentar yang diberikan atas
pembiakan  (reproduksi) dalam dunia tumbuh-tumbuhan bersifat
lebih panjang daripada yang merujuk kepada  pembiakan  dalam
dunia  hewan.  Meskipun demikian, ada banyak pernyataan yang
menggarap tema reproduksi  manusia,  sebagaimana  akan  kita
lihat di bawah ini.

Sudah  merupakan suatu pengetahuan yang diakui bahwa ada dua
metode reproduksi di dalam dunia tumbuh-tumbuhan: yaitu yang
bersifat  seksual  dan  aseksual  (contohnya, pelipatgandaan
spora-spora atau proses menyetek yang merupakan kasus-khusus
pertumbuhan).  Perlu kita perhatikan, bahwa Al-Quran merujuk
kepada bagian-bagian jantan dan betina tetumbuhan tersebut:

"(Tuhan sajalah) yang telah menurunkan air dari langit. Maka
Kami    tumbuhkan    (dari    air    itu)   berpasang-pasang
tumbuh-tumbuhan yang saling terpisah." (QS 20:53)

"Satu dari sepasang" merupakan penerjemahan dari  kata  zauj
(jamaknya azwaj) yang arti aslinya adalah "yang bersama-sama
dengan yang lainnya membentuk satu pasangan." Kata  tersebut
bisa  juga langsung diterapkan pada pasangan kawin (artinya,
manusia), sebagaimana juga pasangan sepatu.                                             

"Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-
 pasangan." (QS 13:3)

Pernyataan  ini  berarti  kemaujudan  organ-organ jantan dan
betina dalam seluruh beragam spesies  buah-buahan.  Hal  ini
sepenuhnya  sesuai  dengan  data  yang  ditemukan pada kurun
waktu yang jauh lebih kemudian berkenaan dengan  pembentukan
buah,  karena  seluruh  tipe  berasal  dari  tetumbuhan yang
memiliki organ-organ seksual (sekalipun  beberapa  varietas,
seperti   pisang,  berasal  dari  bunga-bungaan  yang  tidak
dibuahi).

Pada  umumnya,  reproduksi  seksual  di  dunia  hewan  hanya
digarap  secara  ringkas  dalam Al-Quran. Pengecualian dalam
hal ini adalah berkenaan  dengan  manusia.  Karena,  seperti
yang  akan  kita  lihat  kemudian  dalam  bab  berikut  ini,
pernyataan-pernyataan mengenai topik  ini  berjumlah  banyak
dan sangat terinci.

1 Seluruh kandungan Al-Quran  merupakan  ketentuan-ketentuan
tertentu  mengenai  kebiasaan-kebiasaan  yang sehat seperti:
kebersihan diri, larangan  minum  alkohol;  suatu  ketentuan
seperti  berpuasa  di  bulan  Ramadhan juga merupakan bagian
yang jelas dari aturan-aturan ini. Penyebutan madu di  dalam
Al-Quran   tidak   mencakup   indikasi   apa   pun  mengenai
kasus-kasus khusus yang di situ  madu  ternyata  bermanfaat
bagi kesehatan manusia.
2  Pembaca  yang ingin mengetahui lebih lanjut transliterasi
bahasa Arab ke Latin, hendaknya melihat bagan  dalam  Bibel,
Quran, dan Sains Modern (Edisi Prancis).
3  Perubahan  dalam  struktur  gramatikal suatu ungkapan ini
bersifat umum atau lazim dalam Al-Quran. Tuhan  adalah  yang
mula  pertama  dirujuk  secara  tak  langsung, kemudian teks
tersebut mengaitkan Firman-Firman Langsung-Nya, sebab 'Kami'
dengan jelas berarti Tuhan.
4  Disimpan oleh kelenjar reproduksi, cairan mani mengandung
spermatozoa.

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.